Langsung ke konten utama

Mengenal Bahaya Infeksi Cacing Pipih: Ini Ciri-ciri, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Cacing pipih adalah avertebrata tergolong ke dalam filum Platyhelminthes. Ada lebih dari 25.000 spesies dan beberapa di antaranya bisa menyebabkan infeksi cacing pipih pada manusia. Salah satu spesies cacing pipih yang dapat menginfeksi manusia adalah cacing pita. Cacing jenis ini adalah parasit yang hidup di dalam tubuh hewan lainnya sebagai inang. Untuk lebih lanjut mengetahui infeksi tersebut, berikut penjelasan hingga pengobatannya. Infeksi cacing pipih pada manusia Terjadinya infeksi cacing pipih pada manusia bisa berawal saat mengonsumsi daging hewan yang tidak matang dan dalam kondisi sudah terinfeksi cacing pipih. Selain itu, infeksi juga bisa terjadi saat mengonsumsi air yang terkontaminasi telur atau larva cacing. Meski dapat diatasi, terkadang infeksi pada manusia dapat menyebabkan kondisi serius dan mengancam jiwa. Ada berbagai macam infeksi cating pipih, namun menurut kelasnya, ada dua yang paling dikenal menyebakan infeksi cacing pipih. 1. Trematoda (Flukes) K

Mengenal Platyhelminthes, Filum Berperan Sebagai Parasit di Lingkungannya

 

Platyhelminthes  salah satu filum dalam kingdom Animalia. Penamaan filum ini berasal dari bahasa Yunani, yakni platy yang bermakna pipih serta helminthes yang berarti cacing.

Dinamakan filum cacing pipih sebab anggota hewan pada filum ini merupakan kelompok hewan tanpa tulang belakang yang pada umumnya berjenis cacing pipih yang  memiliki tubuh tipis yang rata antara permukaan punggung dan perut.

Berikut penjelasan tentang Filum Platyhelminthes, filum berperan sebagai parasit di lingkungannya. Yuk, simak pembahasannya.

Karakteristik  Platyhelminthes

Karakteristik filum platyhelminthes Menurut Adun Rusyana dalam buku Zoologi Invertebrata (2018), karakteristik umum dari filum platyhelminthes adalah:

  • Memiliki alat ekskresi sederhana, berfungsi untuk menjaga keseimbangan osmotik dengan lingkungannya
  • Punya rongga gastrovaskuler dengan satu lubang
  • Memiliki daya regenerasi yang tinggi
  • Beberapa spesies hidup secara bebas, namun ada juga yang hidup sebagai parasit
  • Tidak punya organ khusus untuk pertukaran gas
  • Tidak memiliki rongga tubuh yang sebenarnya atau aselomata
  • Tubuhnya bersimetri bilateral dan triploblastik (terdiri dari tiga lapisan tubuh).

Klasifikasi Platyhelminthes

Adapun klasifikasi kelas Platyhelminthes adalah sebagai berikut:

  • Kelas Cestoda, yaitu jenis cacing yang memiliki bentuk seperti pita yang sebagian besar merupakan parasit pada organisme lain. Jenis cacing yang banyak ditemukan di ikan.
  • Kelas Monogenea, yakni jenis ektoparasit yang banyak ditemukan dalam tubuh ikan, amfibi, dan reptilia yang menyerap lendir dari sel-sel di permukaan tubuh inangnya.
  • Kelas Turbellaria, yaitu kelompok hewan yang hidup bebas di perairan, tidak bersifat parasit, dan menggunakan rambut bergetarnya sebagai alat gerak.
  • Kelas Trematoda, yakni jenis cacing pipih yang mempunyai alat isap dengan kait yang dimanfaatkan untuk menempelkan tubuh kepada inangnya agar tidak tercerna.

Reproduksi Platyhelminthes

Platyhelminthes bersifat hermafordit, atau memiliki 2 alat atau organ kelamin sekaligus. Filum ini memiliki testis untuk menghasilkan sperma dan ovarium yang menghasilkan sel telur.

Hal itulah yang membuat jenis filum ini dapat bereproduksi secara generatif, vegetatif, atau keduanya. Pada reproduksi generatif, terjadi pembuahan sel telur oleh sperma. Sementara, reproduksi vegetatif dilakukan dengan cara fragmentasi atau pemotongan beberapa bagian tubuh cacing.

Pada bagian tubuh baru, cacing akan melakukan regenerasi hingga menjadi individu baru yang lengkap. Salah satu contoh yang melakukan reproduksi dengan fragmentasi adalah Planaria.

Jenis Penyakit yang Disebabkan Platyheminthes

1. Skistosomiasis

Penyakit ini disebabkan oleh Genus Schistosoma yang ditularkan melalui siput air tawar pada manusia.Jika cacing tersebut berkembang di tubuh manusia, hal ini dapat memicu kerusakan jaringan dan organ.

Mulai dari kandung kemih, ureter, hati, limpa, dan ginjal manusia akan terkena dampaknya. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia.

2. Kekurangan Darah

Genus berikutnya adalah Clonorchis sinensis yang menyebabkan infeksi cacing hati pada manusia dan hewan mamalia lainnya.Spesies ini dapat menghisap darah manusia, sehingga dapat menyebabkan penyakit kekurangan darah dan gangguan pembuluh darah.

3. Infeksi Cacing Pita

Infeksi cacing pipih dapat ditemukan pada hewan. Misalnya Scutariella didactyla yang menyerang udang jenis Trogocaris dengan cara menghisap cairan tubuh udang tersebut.

Itulah pembahasan platyhelminthes, filum berperan sebagai parasit di lingkungannya. Semoga bermanfaat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Avertebrata Laba-Laba : Klasifikasi, Ciri-Ciri, dan Keragamannya

Kamu tentu sudah tak asing lagi dengan hewan yang satu ini. Laba-laba merupakan sejenis hewan berbuku-buku (arthropoda). Hewan ini memiliki dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tak memiliki mulut pengunyah, tidak memiliki sayap, serta memiliki jaring perekat. Semua jenis laba-laba tergolong ke dalam ordo Araneae bersamaan dengan kalajengking, tungau, ketonggeng, dan semua hewan berkaki delapan. Bidang ilmu yang memperlajari tentang laba-laba disebut dengan arachnologi. Araneae adalah ordo terbesar dalam arachnida dan masuk dalam peringkat ke tujuh dari total keragaman spesies seluruh ordo organisme. Hewan ini dapat ditemukan dengan mudah di seluruh dunia di setiap benua kecuali Antartika dan telah bertahan lama di hampir semua habitat kecuali kolonisasi udara dan laut. Hewan berkaki delapan ini memangsa serangga dan hewan-hewan kecil lainnya atau kerap disebut jenis karnivora. Terkadang, ia juga bersifat kanibal jika tidak menemukan mangsa lainnya. Laba-laba mempunyai bisa yang berfung

Fakta Unik Laba-Laba yang Harus Diketahui

Laba-laba merupakan hewan berkaki delapan dan memiliki mata lebih dari sepasang. Hewan ini ternyata banyak ditakuti oleh manusia. Jika kamu adalah salah satu orang yang juga takut dengan hewan ini, tak perlu khawatir. Sebab hewan yang satu ini nyatanya tak beracun dan tidak pernah tertarik dengan manusia. Karena besarnya ukuran manusia bagi laba-laba, membuatnya tidak tertarik untuk menyerang kita. Hewan berkaki delapan ini sering dijumpai di dalam rumah dan juga lingkungan sekitar manusia. Laba-laba dikenal dengan ciri khasnya yang membuat jaring-jaring di sudut-sudut rumah. Jika tidak dibersihkan dengan rutin, jaring laba-laba akan semakin banyak dan mengganggu pemandangan. Uniknya, laba-laba tidak pernah terperangkap di jaring yang dibuatnya sendiri. Tak hanya itu, terdapat fakta-fakta menarik lainnya seputar hewan ini. Apa saja itu? Yuk, Simak Ulasannya di bawah ini. 1. Dapat Membuat Jaring Raksasa Laba-laba memiliki kemampuan untuk membuat jaring-jaring dengan bagian tubuhnya send

Mengenal Avertebrata Bekicot : Kkasifikasi, Ciri-Ciri, dan Habitat

Sobat pembaca tentunya sudah tak asing lagi dengan hewan avertebrata yang satu ini. Bekicot merupakan hewan lunak yang berasal dari kelompok moluska. Umumnya, hewan berlendir ini bisa ditemukan di area persawahan dan bebatuan dengan kondisi yang lembab. Hewan ini juga kerap disebut sebagai salah satu hama karena memakan berbagai tanaman budidaya. Walaupun hewan berlendir ini banyak dijumpai di area pemukiman, ternyata satwa ini bukanlah spesies asli Indonesia. Artikel ini akan membahas tentang bekicot. Untuk lebih mengetahui tentang hewan avertebrata ini, simak penjelasan berikut. Klasifikasi Bekicot Hewan dengan nama latin Achatina fulica ini disebut juga siput darat yang berasal dari Afrika Timur. Moluska ini sudah menginvasif hampir keseluruh penjuru wilayah di dunia dan menyerang lahan-lahan pertanian. Berikut ini adalah klasifikasi bekicot, yaitu : Kingdom : Animalia Filum : Mollusca Kelas : Gastropoda Ordo : Sytromatophora Famili : Achatinidae Genus : Achatina Spesies : Achatina