Langsung ke konten utama

Mengenal Tiram: Karakteristik, dan Sistem Reproduksi

Tiram adalah sejenis moluska bivalvia yang hidup di air asin atau payau. Tiram memiliki cangkang dua bagian yang kuat dan seringkali berbentuk segitiga atau bulat panjang. Cangkang tiram terbuat dari kalsium karbonat dan dilindungi oleh lapisan organik yang tipis. Bagian dalam cangkang tiram memiliki tekstur yang kasar dan berwarna putih atau keabu-abuan. Tiram hidup menempel pada permukaan substrat dengan menggunakan sejenis jaringan lunak yang disebut bisus, dan umumnya memakan plankton dan partikel makanan lainnya yang diambil dari air dengan menggunakan alat penghisap yang disebut sifon. Tiram adalah hewan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi sebagai bahan makanan dan bahan industri, serta sebagai sumber protein bagi manusia dan hewan lainnya. Karateristik Berikut adalah beberapa ciri-ciri dari tiram. 1. Cangkang Kuat Ciri paling mencolok dari tiram adalah cangkangnya yang kuat dan keras. Cangkang tiram terdiri dari dua bagian yang simetris, dan biasanya berbentuk

Mengenal Platyhelminthes, Filum Berperan Sebagai Parasit di Lingkungannya

 

Platyhelminthes  salah satu filum dalam kingdom Animalia. Penamaan filum ini berasal dari bahasa Yunani, yakni platy yang bermakna pipih serta helminthes yang berarti cacing.

Dinamakan filum cacing pipih sebab anggota hewan pada filum ini merupakan kelompok hewan tanpa tulang belakang yang pada umumnya berjenis cacing pipih yang  memiliki tubuh tipis yang rata antara permukaan punggung dan perut.

Berikut penjelasan tentang Filum Platyhelminthes, filum berperan sebagai parasit di lingkungannya. Yuk, simak pembahasannya.

Karakteristik  Platyhelminthes

Karakteristik filum platyhelminthes Menurut Adun Rusyana dalam buku Zoologi Invertebrata (2018), karakteristik umum dari filum platyhelminthes adalah:

  • Memiliki alat ekskresi sederhana, berfungsi untuk menjaga keseimbangan osmotik dengan lingkungannya
  • Punya rongga gastrovaskuler dengan satu lubang
  • Memiliki daya regenerasi yang tinggi
  • Beberapa spesies hidup secara bebas, namun ada juga yang hidup sebagai parasit
  • Tidak punya organ khusus untuk pertukaran gas
  • Tidak memiliki rongga tubuh yang sebenarnya atau aselomata
  • Tubuhnya bersimetri bilateral dan triploblastik (terdiri dari tiga lapisan tubuh).

Klasifikasi Platyhelminthes

Adapun klasifikasi kelas Platyhelminthes adalah sebagai berikut:

  • Kelas Cestoda, yaitu jenis cacing yang memiliki bentuk seperti pita yang sebagian besar merupakan parasit pada organisme lain. Jenis cacing yang banyak ditemukan di ikan.
  • Kelas Monogenea, yakni jenis ektoparasit yang banyak ditemukan dalam tubuh ikan, amfibi, dan reptilia yang menyerap lendir dari sel-sel di permukaan tubuh inangnya.
  • Kelas Turbellaria, yaitu kelompok hewan yang hidup bebas di perairan, tidak bersifat parasit, dan menggunakan rambut bergetarnya sebagai alat gerak.
  • Kelas Trematoda, yakni jenis cacing pipih yang mempunyai alat isap dengan kait yang dimanfaatkan untuk menempelkan tubuh kepada inangnya agar tidak tercerna.

Reproduksi Platyhelminthes

Platyhelminthes bersifat hermafordit, atau memiliki 2 alat atau organ kelamin sekaligus. Filum ini memiliki testis untuk menghasilkan sperma dan ovarium yang menghasilkan sel telur.

Hal itulah yang membuat jenis filum ini dapat bereproduksi secara generatif, vegetatif, atau keduanya. Pada reproduksi generatif, terjadi pembuahan sel telur oleh sperma. Sementara, reproduksi vegetatif dilakukan dengan cara fragmentasi atau pemotongan beberapa bagian tubuh cacing.

Pada bagian tubuh baru, cacing akan melakukan regenerasi hingga menjadi individu baru yang lengkap. Salah satu contoh yang melakukan reproduksi dengan fragmentasi adalah Planaria.

Jenis Penyakit yang Disebabkan Platyheminthes

1. Skistosomiasis

Penyakit ini disebabkan oleh Genus Schistosoma yang ditularkan melalui siput air tawar pada manusia.Jika cacing tersebut berkembang di tubuh manusia, hal ini dapat memicu kerusakan jaringan dan organ.

Mulai dari kandung kemih, ureter, hati, limpa, dan ginjal manusia akan terkena dampaknya. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit endemik di Indonesia.

2. Kekurangan Darah

Genus berikutnya adalah Clonorchis sinensis yang menyebabkan infeksi cacing hati pada manusia dan hewan mamalia lainnya.Spesies ini dapat menghisap darah manusia, sehingga dapat menyebabkan penyakit kekurangan darah dan gangguan pembuluh darah.

3. Infeksi Cacing Pita

Infeksi cacing pipih dapat ditemukan pada hewan. Misalnya Scutariella didactyla yang menyerang udang jenis Trogocaris dengan cara menghisap cairan tubuh udang tersebut.

Itulah pembahasan platyhelminthes, filum berperan sebagai parasit di lingkungannya. Semoga bermanfaat!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sotong: Klasifikasi, Ciri Ciri, serta Manfaatnya

Sotong merupakan salah satu hewan yang hidup di daerah perairan, khususnya laut, sungai, dan danau. Hewan ini bisa Kamu temukan di hampir seluruh daerah perairan yang berukuran luas, baik air tawar, payau, maupun asin, pada kedalaman yang bervariasi. Namun, hewan peraian satu ini kerap kali disalahartikan oleh masyarakat umum sebagai cumi-cumi. Padahal, keduanya adalah dua jenis hewan yang berbeda. Dimana, sotong memiliki tubuh berbentuk pipih, sedangkan cumi-cumi memiliki bentuk silinder . Selain itu, cangkang dalam sotong tersusun atas kapur yang keras, berbanding terbalik dengan cumi-cumi yang memiliki cangkang yang lunak. Klasifikasi Sotong Kingdom : Animalia Filum : Moluska Kelas : Cephalopoda Sub kelas : Coleoidea Ordo : Sepioidea Genus : Sepia Spesies : Sepia Sp. Ciri-Ciri dan Keunikan Sotong Sotong memiliki delapan lengan, dan dua tentakel yang dilengkapi dengan pengisap untuk menangkap mangsanya. Mereka umumnya mempunyai ukuran antara 15-25 cm, deng

Mengenal Avertebrata Laba-Laba : Klasifikasi, Ciri-Ciri, dan Keragamannya

Kamu tentu sudah tak asing lagi dengan hewan yang satu ini. Laba-laba merupakan sejenis hewan berbuku-buku (arthropoda). Hewan ini memiliki dua segmen tubuh, empat pasang kaki, tak memiliki mulut pengunyah, tidak memiliki sayap, serta memiliki jaring perekat. Semua jenis laba-laba tergolong ke dalam ordo Araneae bersamaan dengan kalajengking, tungau, ketonggeng, dan semua hewan berkaki delapan. Bidang ilmu yang memperlajari tentang laba-laba disebut dengan arachnologi. Araneae adalah ordo terbesar dalam arachnida dan masuk dalam peringkat ke tujuh dari total keragaman spesies seluruh ordo organisme. Hewan ini dapat ditemukan dengan mudah di seluruh dunia di setiap benua kecuali Antartika dan telah bertahan lama di hampir semua habitat kecuali kolonisasi udara dan laut. Hewan berkaki delapan ini memangsa serangga dan hewan-hewan kecil lainnya atau kerap disebut jenis karnivora. Terkadang, ia juga bersifat kanibal jika tidak menemukan mangsa lainnya. Laba-laba mempunyai bisa yang berfung

Mengenal Avertebrata Bekicot : Kkasifikasi, Ciri-Ciri, dan Habitat

Sobat pembaca tentunya sudah tak asing lagi dengan hewan avertebrata yang satu ini. Bekicot merupakan hewan lunak yang berasal dari kelompok moluska. Umumnya, hewan berlendir ini bisa ditemukan di area persawahan dan bebatuan dengan kondisi yang lembab. Hewan ini juga kerap disebut sebagai salah satu hama karena memakan berbagai tanaman budidaya. Walaupun hewan berlendir ini banyak dijumpai di area pemukiman, ternyata satwa ini bukanlah spesies asli Indonesia. Artikel ini akan membahas tentang bekicot. Tapi sebelum itu kamu juga bisa mengetahui agama deva mahenra , aktor muda asal Indonesia. Untuk lebih mengetahui tentang hewan avertebrata ini, simak penjelasan berikut. Klasifikasi Bekicot Hewan dengan nama latin Achatina fulica ini disebut juga siput darat yang berasal dari Afrika Timur. Moluska ini sudah menginvasif hampir keseluruh penjuru wilayah di dunia dan menyerang lahan-lahan pertanian. Berikut ini adalah klasifikasi bekicot, yaitu : Kingdom : Animalia Filum : Mollusca Kelas